Minggu, 26 Februari 2012

Puisi dari Fatimah anak baginda rasul yang di tinggal mati ayahnya

Nafasku tersekat dalam tangisan
duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan,
sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan.
Aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan.

Kala rinduku memuncak,
Kejenguk pusaramu dengan tangisan
Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban,
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu,
Tangisan memelukku;
Kenangan padamu melupakan daku dari
Segala musibah yang lain
Jika engaku menghilang dari mataku ke dalam tanah
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih.

Berkurang sabarku bertambah dukaku
Setelah kehilangan Khatamu-l-Anbiya’,
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas-derasnya,
Jangan kau tahan bahkan linangan darah.
Ya Rasulullah, wahai kekasih Tuhan
Pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata lagit
Bebukitan, hutan, dan burung
Dan seluruh bumi menangis.

Duhai junjunganku,
Untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah,
Bukit-bukit dan lembah mekah
Telah menangisimu mihrab
Tempat belajar Al-Qur’an di kala pagi dan senja.
Telah menangisimu islam,
Sehingga islam kini terasing di tengah manusia;
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
Akan kau lihat kegelapan setelah cahaya.

Senin, 06 Februari 2012

Aku Adalah Pohon

hijau menjadi kuning
kuning menjadi coklat
angin meniup dari seluruh arah
dan ia menerima takdir
sekuat apapun sekokoh apapun
ia pasti akan gugur
menerima segalanya dengan besyukur dan keikhlasan
ia selalu bersabar
ia selalu memiliki hasil manis dan tidak manis
ia pun banyak manfaat dari bagi kehidupan
sosok yang diam berayun-ayun memilki makna
sebuah arti filosofi kehidupan
ia selalu bersyukur
ia sebuah simbol kehidupan
ia adalah pohon

Aku Pun Harus Diam

berpesan dalam cerita
bercerita dengan kata indah
terlalu jauh semua itu
kebosanan menutupi tubuh ini
berpikir keras tak terlampaui
menendang semua ketidak adilan
awan yang putih mengubah seluruh ketenangan
suara yang menikam leher terdengar dengan lantang
tak ubahnya sang waktu terus berputar
kesabaran haus akan amarah
penantian yang tak kunjung hinggap
selaksa menanti embun
cahaya besar berubah menjadi kecil
disini yang diam disana yang bernyanyi
tetapi tak sekuat angin bertiup dari Barat
oleh sebab itu aku pun harus diam

Sabtu, 04 Februari 2012

Terduduk Tanpa Alas


merajuk sebuah kata manis didalam telinga terasa indah hati pun terasa tenang
melarikan sebuah ketakutan saat kepercayaan sudah menipis
menipu perasaan  didalam kesetiaan
pikiran kotor menguntai-untai dalam sebuah bingkai biru
berpesan akan adanya sebuah perubahan
tak kurasakan hanya kebimbangan terduduk tanpa alas
semua yang hidup terasa sekarat
lagu itu sepertinya simbol dimana yang harus dan terjadi
inginkan hari sebiru langit memandang menonggakkan kepercayaan yang harus dibuat
setenggak air surga mengantarkan kepada sebuah halusinasi
dewasa bukanlah kenyamanan,kebijakkan yang akan membuat itu
menyentuh ke dalam pun  belum terjadi
sungguh tak menyadari tentang perasaan itu
mungkin aku salah...???